ILMU KOMUNIKASI

Artikel

Hedonisme dan Konsumtivisme Dalam Media Massa

Post , Tuesday 2014-08-12

Diskusi Bulanan "Hedonisme dan Konsumtivisme Dalam Media Massa"
Oleh Arie Prasetio.,M.Si


Pendahuluan


Masyarakat modern ditandai dengan semakin tingginya waktu untuk bertukar informasi, baik dengan media komunikasi maupun dengan pemakaian teknologi komunikasi seperti telepon & komputer. Media massa memiliki fungsi sebagai pemberi informasi, identitas pribadi, sarana interaksi sosial & sebagai sarana hiburan. Media massa memungkinkan seseorang untuk dapat mengetahui posisi sanak keluarga, teman & masyarakat. Fungsi lain dari media massa adalah penyaluran emosi. Layaknya magma yang tersimpan di perut bumi, emosi ada saatnya dikeluarkan. Emosi butuh penyaluran, dan salah satunya dengan mengkonsumsi media massa atau bahkan memproduksi media yg senada dengan emosinya.


Permasalahan


Berdasarkan fungsi media massa diatas, maka dapat dikatakan bahwa media massa memiliki peran di dalam menciptakan daya tarik seks (sex appeal).
            Model-model yang ditampilkan pada sebuah majalah, misalnya, dapat diartikan sebagai upaya media massa dalam mengatakan apa yg mereka nilai sebagai orang yang memiliki daya tarik seks. Ada semacam kriteria tertentu yang harus dimiliki model tersebut agar ia dapat ditampilkan oleh majalah yang bersangkutan. Memang, daya tarik seks pada umumnya sering dipersepsikan dengan daya tarik tangible (bentuk tubuh, bibir, rambut, wajah, dsb). Namun ada hal lain (intangible) yang dapat membentuk daya tarik seks, seperti ; karisma, tingkat intelektual yang tinggi, kesuksesan, kemapanan materi. Semuanya berujung pada konsumerisme dan hedonisme.


            Media massa memiliki kekuatan untuk menawarkan apa yang saat ini harus dimiliki orang, apa yang dicari orang, tren, termasuk menentukan apa yang harus dimiliki kahalayak untuk dapat memiliki sex appeal, dapat mendorong orang kepada gaya hidup hedonis. Hedonisme sendiri dapat diartikan sebagai bentuk dari kecintaan seseorang pada dunia, sehingga apa saja dilakukan dengan orientasi pada kepuasan duniawi. Sedangkan konsumtivisme sering disamaartikan dengan konsumerisme. Namun kedua istilah tersebut berbeda makna. Konsumerisme merupakan gerakan konsumen yang memperjuangkan kedudukan yang seimbang antara konsumen, pelaku usaha dan negara. Konsumtivisme merupakan paham untuk hidup konsumtif. Dapat diartikan mendahulukan keinginan daripada kebutuhan serta meniadakan skala prioritas. Menurut Jean Braudillard, nilai tukar dan nilai guna kini telah berganti dengan nilai simbol / lambang. Misalnya, ketika membeli mobil, orang sekaligus membeli simbol kemapanan yang melekat pada mobil itu. Atau ketika membeli baju, orang juga membeli kepercayaan diri untuk dirinya.


            Secara tidak langsung pria dapat digolongkan sebagai pengendali perekonomian, dimana mereka merupakan pasar potensial bagi barang konsumen. Kecenderungan ini dapat dilihat dari fenomena maraknya produksi barang yang diperuntukkan bagi kaum pria. Seperti ; mobil, alat telekomunikasi, perawatan tubuh & wajah, pakaian, penambah vitalitas, dll). Walaupun tidak sebesar potensi yang dimiliki perempuan sebagai big spender, namun pria tetap saja digolongkan sebagai pasar yang menjanjikan. Ditambah dengan semakin banyaknya majalah / media massa yg bersegmen ’khusus pria’. Mulai dari majalah, tabloid dan radio semakin mengukuhkan pria sebagai golongan pelaku ekonomi yang kapitalistik. ”Saat ini partisipasi masyarakat dunia amat tinggi, dan fenomena ini tidak terlepas dari perkembangan kapitalisme. Masyarakat kapitalis disebut Jean Braudillard dengan ’masyarakat konsumer’ (Jean Braudillard, 2005) dan Adorno dengan ’masyarakat komoditas’.” (dalam Ibrahim, 2005;24).


Adorno mengemukakan 3 aksioma penting yang menandai ”masyarakat komoditas”.
1.    masyarakat yang didalamnya berlangsung produksi barang-barang bukan bagi pemuasan kebutuhan dan keinginan, tetapi demi profit / keuntungan
2.    dalam masyarakat komoditas, muncul predisposisi konsentrasi kapital yang memungkinkan penyelubungan operasi pasar bebas demi keuntungan produksi massa yang dimonopoli dari barang-

       barang yang distandarisasi, terutama terhadap industri komunikasi.
3.    hal yang sulit dihadapi oleh masyarakat komoditas adalah meningkatnya tuntutan terus menerus dalam menghadapi ancaman yang mereka ciptakan sendiri.

 

Menurut Featherstone (2005), ada 3 perspektif mengenai budaya konsumer. Yaitu :
1.    Budaya konsumer didasari pada produksi komoditas kapitalis yang telah menyebabkan peningkatan akumulasi budaya secara luas dalam bentuk barang-barang konsumsi dan tempat-tempat pembelanjaan. Hal ini menyebabkan munculnya aktivitas konsumsi dan pemanfaatan waktu luang pada masyarakat komoditas.
2.    kepuasan seseorang dari barang yang dikonsumsi berkaitan dengan prestise. Fokusnya, cara orang memanfaatkan barang untuk menciptakan ikatan sosial / perbedaan sosial.
3.    perspektif mengenai kesenangan / kenikmatan emosional dari aktivitas konsumsi. Khususnya, tempat-tempat kegiatan konsumsi yang secara beragam menimbulkan kegairahan & kenikmatan estetis.

 

Hal penting yang terdapat dalam masyarakat komoditas / masyarakat konsumer adalah proses pembelajaran atau adanya suatu proses adopsi cara belajar menuju aktivitas konsumsi dan pengembangan suatu gaya hidup. (Featherstone). Menurut Henri Lefebre (1968/1984), seorang marxis, orang yang hidup pada masyarakat kapitalis, adalah hidup dalam situasi teror psikologis. Pada kehidupan keseharian, kita berada dalam ”serangan” yang konstan (periklanan, program radio, TV), meskipun kita mungkin tidak mengenali serangan tersebut. -teori jarum hipodermik-. (Berger,2000:51)
Kritik terhadap masyarakat konsumtif dan hedonis.

Herbert Marcuse merupakan salah satu tokoh generasi pertama Mahzab Frankfurt, di mana mahzab ini berasal dari kelompok pemikir yang muncul dari lingkungan Institut fur Sozialforchung (Universitas Frankfurt). Mahzab ini ingin memperjelas secara rasional terstruktur serta melihat implikasi struktur tersebut dalam kehidupan manusia dan kebudayaannya. Mahzab ini merumuskan sasarannya sebagai teori kritis. Teori kritis merupakan teori yang tidak berkaitan dengan prinsip-prinsip umum dan tidak membentuk sistem ide. Teori ini berusaha memberikan kesadaran untuk membebaskan manusia dari irasionalisme, dengan demikian fungsi teori ini adalah emansipatoris (membebaskan).


Cirinya adalah :
-        Mempertanyakan sebab akibat terhadap penyelewengan dalam masyarakat.
-        Berpikir secara historis.
-        Mahzab Frankfurt menunjukkan bahwa teori/ilmu yang bebas nilai adalah palsu.
-        Teori harus memiliki kekuatan, nilai dan kebebasan untuk mengkritik dirinya sendiri dan menghindari kemungkinan untuk menjadi ideologi.

 

(google.com)


Menurutnya, teknologi dianggap dapat mengancam keberlangsungan hidup karena teknologi dapat menjajah masyarakat dengan dalih memudahkan segala urusan kehidupan yang bermasalah. Segala masalah dapat diselesaikan dengan teknologi. Seolah-olah teknologi menjadi agama baru bagi masyarakat modern. Pada akhirnya, masyarakat hanya akan hidup bekerja untuk mendapatkan teknologi karena dianggap mampu membantunya menghadapi permasalahan hidup. Pertanyaannya mengenai bagaimana suatu barang itu bekerja, bukan mengenai apa barang itu sesungguhnya. Benda telah kehilangan konsistensi ontologisnya. Misalnya; Handphone. Produsen berlomba-lomba meluncurkan produk barunya dengan berbagai jenis fitur yang diciptakan untuk solusi atas problem masyarakat modern. Bagaimana fitur itu beroperasi, fasilitas serta keunggulan apa yang dimiliki sebuah handphone, itulah yang ditemui di sekeliling kita. Tetapi apa sebenarnya handphone itu yang jarang dikemukakan. Apakah barang yang membawa perubahan signifikan pada kehidupan sosial atau apakah ia membawa kebahagiaan bagi umat manusia atau justru sebaliknya? Secara ekonomis masyarakat komoditas yang selanjutnya menggunakan istilah masyarakat industri semakin kaya, baik secara kualitas maupun kuantitas. Namun keadaan yang terlihat baik ini, hanya dari sisi luarnya saja. Sesuatu yang menipu karena pada kenyataannya peningkatan kualitas & kuantitas kesejahteraan menusia hanya dimiliki oleh lahiriah saja. Manusia dewasa ini merupakan manusia yang tidak utuh nila-nilai kemanusiaannya dan terjebak dalam hedonisme. Kemajuan di bidang material pada masyarakat ini belum tentu membawa kemajuan di bidang lain seperti moral, kebudayaan serta kehidupan beragama.

 


Kemajuan teknologi dengan didukung kapitalisme hadir untuk membantu manusia mengisi kekosongan dalam kehidupan pribadinya. Untuk yang merasa lelah setelah bekerja seharian, diberikan solusi relaksasi. Aneka bentuk, jenis serta lokasinya ditawarkan. Alih-alih melepas lelah, orang-orang menghabiskan apa yang diperolehnya dengan bekerja mencari nafkah (dunia) untuk kesenangan duniawi. Masyarakat dijadikan konsumen, yang sebetulnya mereka sendiri yang menjadi bahan konsumsi pasar. Artinya, mereka terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang hedonis.
Contoh diatas bisa memberikan ilustrasi bahwa teknologi, dengan segala implikasinya, kini semakin bebas memaksakan tuntutan-tuntutan ekonomis dan politisnya untuk tetap mempertahankan & bahkan meningkatkan waktu kerja manusia, termasuk memanipulasi kebutuhan. Dengan memanipulasi kebutuhan dalam upaya melariskan barang-barang hasil produksi maka tercipta kebutuhan semu.
Kebutuhan semu menurut Marcuse :


”segala kebutuhan yang ditanamkan ke dalam masing-masing individu demi kepentingan sosial tertentu dalam represinya. Atau kebutuhan yang diciptakan oleh pihak lain yang kemudian oleh pihak tersebut diinternalisasikan dalam pikiran kita sehingga kita tidak menyadari lagi apakah memang kita membutuhkan apa yang ditawarkan oleh pihak tersebut.” (J. Sudarminta,126).


            Contohnya dalam masyarakat industri, objek-objek konsumsi yang berupa komoditi tidak lagi sekedar manfaat (nilai guna) dan harga (nilai tukar). Selebihnya, apa yang kita konsumsi kini melambangkan status, simbolis, prestise, dan kehormatan. Seorang dosen muda bisa jadi merasa harus memakai pakaian bermerk pada saat mengajar, atau seorang eksekutif muda melakukan lobi di restoran mewah dan mahal dengan harapan setidaknya ia mampu menyampaikan pesan kepada klienn atau audiensya bahwa ia orang yang ”pantas” dan representatif. Perempuan yang bertubuh langsing dan cantik dinilai lebih meyakinkan dalam mempresentasikan suatu produk kecantikan. Jadi, objek dibeli karena makna simbolik yang melekat di dalamnya bukan karena harga / manfaatnya. Pemuasan terhadap kebutuhan semu tersebut mungkin membahagiakan masing-masing individu. Tetapi menurut Marcuse kebahagiaan itu juga adalah sesuatu yang semu dan tidak boleh dipertahankan karena menghambat perkembangan kemampuan individu untuk mengenali kekurangan masyarakat secara holistik juga menghambat upaya untuk mengatasi kekurangan tersebut. Dalam memenuhi kebutuhan semu biasanya orang tidak mengetahui mengapa ia membutuhkannya. Dorongan untuk membeli dan menggunakannya tidak sungguh-sungguh timbul dari dalam dirinya sendiri, melainkan hanya sekedar melihat orang lain berbuat begitu. Kebutuhan itu datang dari luar dan individu tidak mampu menguasai dirinya terhadap tekanan yang datang. (J. Sudarminta,126 dalam Handayani).


Bisa disimpulkan, dalam masyarakat konsumer itu ada kecenderungan untuk memiliki dan menikmati yang serba baru, paling enak, paling hebat. Disini, media massa berperan penting dan merupakan senjata ampuh untuk merangsang dan membangkitkan selera masyarakat. Dalam iklan, misalnya. Bahasa yang digunakan bersifat membujuk, memikat disertai gambaran-gambaran kongkrit tertentu dan menghipnotis pembaca atau pendengar untuk membeli, meskipun sebenarnya tidak butuh. Padahal kemampuan berpikir kritis perlu sebagai imbangan terhadap dinamika sosial yang mengarah hedonisme dan konsumtivisme media. Dengan tertanamnya keinginan untuk membeli dan membeli lagi, produsen seolah-olah hanya menuruti saja. Hukum supply and demandmembangun keselarasan antara kapitalis (yang memerintah) dan konsumen (yang diperintah).


Dimmick dan Rothenbuhler mengemukakan bahwa ada 3 sumber kehidupan media massa. Yaitu :
1.    content (terkait dengan isi dari sajian)
2.    capital (sumber dana)
3.    audiences (segmen yang dituju)
(Albarran;27)


      Menurut McQuail (1987) media hidup dalam situasi tertekan. Tekanan yang mereka hadapi berasal dari berbagai kekuatan luar, termasuk dari pemasang iklan, penguasa, institusi / organisasi dan khalayak. Wacana seksualitas di media tidak dapat dilepaskan dari berbagai pengaruh. Faktor tersebut menentukan batas-batas dan dalam bentuk apa seksualitas tersebut hadir. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pendefinisian seksualitas, diantaranya :
Pertama, pemerintah. Pemerintah merupakan kekuatan yang bisa mempengaruhi organisasi media.
Faktor kedua, adalah pemodal. Dengan tujuan komersil atau idealis, itu amat bergantung dari pemilik modal.
Ketiga, pengiklan. Iklan akan menjadi sumber hidup bagi media. Karena posisinya yang vital maka media mau tidak mau harus berkompromi dengan pemasang iklan.
Meskipun ada banyak faktor yang mempengaruhi pendefinisian seksualitas, tetapi hal yang paling penting adalah pengaruh dari ideologi kapitalisme. Saat ini, hampir semua aspek terinfiltrasi pengaruh ideologi ini. Yang artinya, segala sesuatu ditujukan untuk memupuk modal. Segala sesuatu ditujukan untuk menghasilkan uang dan keuntungan. Seksualitas pun tidak luput dari oengaruh kapitaslime. Dampak yang ditimbulkan oleh seksualitas mengunda kontroversi. Kubu pro menganggap seksualitas yang ditampilkan media tidak memiliki dampak yang berbahaya, karena seks dipandang sebagai karya seni dan bermakna ambigu. sedangkan kubu yang kontra menganggapnya memiliki dampak yang negatif, karena dianggap tidak layak untuk diketahui publik dan dosa (jika ditinjau secara transedental).


 

Berita

Berita Prodi IK Teken MoU Dengan ASPIKOM Pusat

Headline News , post : Wednesday 2017-07-19, dibaca : 63 kali.

PROGRAM Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unikom menjalin kerjasama dengan Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi ...

Berita Prodi IK Persembahkan Indonesia Berdonor

Headline News , post : Thursday 2017-03-16, dibaca : 260 kali.

Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unikom telah menyelenggarakan kegiatan Donor Darah kerjasama dengan Radio Republik ...


Berita 25 Instansi Tandatangani MOU dengan Prodi IK

Headline News , post : Thursday 2017-01-19, dibaca : 347 kali.

BANDUNG- Program studi Ilmu Komunikasi FISIP Unikom telah melaksanakan penandatanganan kerjasama dengan 25 instansi/ ...


Berita Workshop Presenter & News Anchor

Headline News , post : Saturday 2016-05-21, dibaca : 572 kali.

Pada semester genap Tahun Akademik 2015/2016, Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unikom telah melaksanakan salah satu ...


Berita Rapat Peninjauan Kurikulum Program Studi Ilmu Komunikasi

Headline News , post : Wednesday 2015-05-20, dibaca : 1189 kali.

Pada hari Sabtu, 9 mei 2015, bertempat di Ruang 2407 Kampus II Unikom, telah dilaksanakan Rapat Peninjauan Kurikulum ...


Artikel

  • Diskusi Bulanan

    Artikel , post : Thursday 2014-08-14, dibaca : 1119 kali.

    Pornografi merupakan bagian yang tidak terpisahkan seiring dengan perubahan dan perkembangan peradaban manusia, hal ini terekam dengan jelas dan tercatat dalam ...

Download

UNIKOM-TV

Related Link

  • http://www.unikom.ac.id
  • http://kulianonline.unikom.ac.id
  • http://nilaionline.unikom.ac.id
  • http://kampus.unikom.ac.id
  • http://pmb.unikom.ac.id
  • http://career.unikom.ac.id

Instagram

https://www.instagram.com/prodiilmukomunikasi/

Facebook